Inmarc’s News

25, Agustus, 2008

Lativi Ganti Nama Jadi TV ONE

Filed under: Komunikasi — inmarcomm @ 4:05 pm

Mulai 14 Februari 2008, terlihat iklan sebuah stasiun TV baru, namanya TV ONE. terpikir ada izin TV baru yang baru saja dikeluarkan, tetapi setelah melihat wajah-wajah tidak asing, diantaranya Karni Ilyas. Setelah saya tanya sana-sini, oh ternyata itu adalah nama baru bagi Lativi.
Lativi memang sudah berpindah tangan. Pemiliknya bukan lagi mantan Menaker era Soeharto, Abdul Latief yang juga pemilik Pasaraya Sarinah. Entah benar atau tidak, menurut kabar, pemilik sekarang adalah Star TV dan Grup Bakrie yang juga mengoperasikan ANTV..
Apakah TV ONE dan ANTV menjadi bersaudara, seperti halnya RCTI, TPI dan Global TV?. Sama juga seperti halnya Trans TV dengan TV7. Apakah juga jadi menyusul antara Indosiar dengan SCTV? Kita tunggu saja, yang jelas mereka semua berlomba menjadi yang terbaik. Uang ratusan milyaran rupiah harus kembali termasuk keuntungan yang mereka proyeksikan.Semoga yang untung adalah masyarakat. Semoga saja.

Orang-Orang Muda Pengelola Bisnis Pertelevisian di Tanah Air (1)
Kongsi Trio yang Berobsesi Tampil Unik Erick Thohir yang dikenal sebagai Presdir Mahaka Group terus memperkuat bisnis medianya. Pria kelahiran Jakarta itu tercatat sebagai salah satu di antara orang-orang muda dalam bisnis pertelevisian. Bagaimana sebenarnya kiprah orang-orang muda di industri ini?
PLENARY Hall di Jakarta Convention Center pada malam Valentine (14/2) itu terlihat ramai. Mobil-mobil memenuhi ruang parkir. Demikian pula, pengunjung, termasuk para menteri, artis, dan tokoh media, memadati balairung yang biasa digunakan pameran berskala internasional di kawasan Senayan itu. Malam itu adalah perhelatan peluncuran tvOne, nama stasiun televisi yang sebelumnya bernama Lativi di bawah naungan PT Lativi Media Karya. Tiga sosok tampak terlibat dalam obrolan akrab. Mereka adalah Fofo Sariaatmadja (SCTV), Erick Thohir (tvOne), dan Anindya N. Bakrie (antv).
Erick adalah nakhoda baru televisi yang dahulu dimiliki pengusaha sekaligus mantan Menaker Abdul Latief itu. Ditemui di kantornya, PT Lativi Media Karya di Jalan Rawa Terate II/2, Kawasan Industri Pulogadung, Erick mau blak-blak kepada Jawa Pos tentang bagaimana awal dirinya menerjuni bisnis pertelevisian tanah air.
Suatu hari, kata Erick, dirinya bertemu dengan Anindya N. Bakrie dan Presdir Recapital Rosan P. Roslani. Erick dan Anindya bukan orang baru di bisnis media. Lewat PT Abdi Bangsa Tbk, Erick adalah pemilik harian Republika. Demikian pula, Anindya dikenal sebagai keluarga pemilik antv. Ketiga orang itu kemudian sepakat berkongsi membeli PT Lativi untuk membangun tvOne.
“Jadi, awalnya kami membentuk konsorsium yang diwakili saya (Grup Mahaka), Pak Anin (Anindya N. Bakrie, Grup Bakrie), dan Pak Rosan (Presdir Recapital Rosan P. Roslani),” katanya.Dalam konsorsium itu, mereka berbagi tugas. Anin dan Rosan fokus ke masalah keuangan dan capital market. “Sedangkan saya lebih ke orang kerja aja. Orang yang day to day di industri medianya,” ujar Erick yang juga pemilik radio One.
Tidak sedikit kocek yang harus dirogoh untuk mengakuisisi saham PT Lativi Media Karya dari pemilik lama. Erick menyebutkan angka Rp 1,3 triliun untuk mengubah Lativi menjadi tvOne. “Angka itu termasuk membayar utang ke Bank Mandiri,” jelasnya.Erick mengakui, mereka bertiga bermimpi membentuk suatu perusahaan media bersama yang unik. “Tidak hanya unik, tapi juga harus berkembang. Unik doang kalau gak berkembang buat apa kan,” kata pria kelahiran 30 Mei 1970 yang juga president of Southeast Asian Basketball periode 2006-2010.Tidak takut ketatnya bisnis televisi?
Pemilik koran Republika itu menilai, banyak perbedaan antara dunia koran dan televisi. Meskipun, prinsip-prinsip jurnalisme keduanya tidak banyak berbeda. “Banyak bedanya. Contohnya, kalau koran terbit harian, di TV itu kan tiap detik dan menit. TV itu lebih kompleks daripada koran,” kata suami Elizabeth T. Thohir itu. Menurut dia, koran dan TV adalah masalah kreativitas sumber daya manusia. Namun, di televisi masalah broadcast lebih ke segi teknik. Hal yang lain, dalam bisnis TV memang lebih berdarah-darah dalam proses modal awal.
“Secara dana, pasti lebih besar TV dan secara operasional lebih kompleks TV,” kata Presdir PT Trinugraha Food Industri, perusahaan pemilik brand Hanamasa, Pronto, dan Ya Kun Kaya Toast, itu.Namun, lanjut Erick, beberapa aspek dalam jurnalisme koran bisa diimplementasikan ke TV. Misalnya, kecakapan menulis berita. “Di televisi itu tetap terpakai. Reporter TV harus bisa menulis. Itu juga sangat dibutuhkan,” katanya.
Alumnus MBA jurusan marketing dari National University California, Amerika, itu mengatakan bahwa kalau orang koran ke bisnis TV, banyak yang bisa digunakan sebagai nilai tambahnya. Meski demikian, bukan berarti Erick sama sekali tidak pernah punya pengalaman di bisnis pertelevisian. Selain Republika dan berbagai media cetak, dia mengelola Gen-FM Jakarta, 101 FM Jakarta, dan Jak TV.Keputusan berkongsi dengan Anindya N. Bakri yang sudah memiliki antv juga bukan tanpa pertimbangan. Erick tidak khawatir terjadi overlapping dengan antv.
“Berbeda konsepnya. Sebab, antv kan general entertainment. Di situ Pak Anin dengan Star TV. Sedangkan di sini (tvOne, Red) lebih fokus pada news dan sportstainment,” kata wakil presiden Hipmi periode 2005-2008 itu.Logo tvOne juga penuh nilai-nilai filosofi yang ingin diusung pemiliknya. Warna merah putih menggambarkan Indonesia, sedangkan bulatan menggambarkan persatuan. “Kata One sendiri digunakan untuk membangkitkan motivasi untuk menjadi nomor satu.
Jadi, secara individu maupun korporat harus menjadi nomor satu,” paparnya.Perubahan brand tvOne tidak hanya mengubah nama, tapi juga mengubah positioning yang sebelumnya memiliki SES (socio economic status) CDE (menengah bawah) menjadi ABC (menengah atas)”Kami akan meninggalkan seks, horor, dan darah-darah yang tidak perlu. Jadi, punya platform yang berbeda. Program-program juga harus berubah total,” lanjutnya.
Menurut dia, target untuk meraih share audience di atas 10 persen sangat mungkin tercapai. Sedangkan untuk rating, Erick mengakui bahwa angka 4-5 saja sudah cukup bagus. “Rating TV ini tidak akan tinggi karena bukan general entertainment TV. Ya, seperti TV menengah, kayak Global (Global TV)-lah. Tapi, image kami kan berbeda. Image kami akan lebih tinggi,” tambah ayah empat orang anak itu.
Karena dipunggawai orang-orang yang mengerti tentang pasar modal, pertengahan tahun ini PT Lativi Media Karya ditargetkan masuk pasar modal (IPO). Dana masyarakat itu akan digunakan untuk menambah modal kerja dan terus memperlebar penetrasinya.Industri televisi di Indonesia akan semakin berkembang pada masa-masa mendatang. Dalam jangka menengah panjang, menurut Erick, akan terjadi konsolidasi dari berbagai pelaku industri tersebut. Itu akan terjadi tidak hanya di industri televisi, tapi juga di Industri media secara menyeluruh.
“Pers yang survive adalah pers yang dikelola secara bisnis. Walaupun, tanpa meninggalkan nilai-nilai pers itu sendiri. Yaitu, mesti fair dan mendahulukan public opinion daripada owner opinion,” papar Erick.Mengapa bos-bos televisi saat ini dipimpin jajaran eksekutif puncak yang berusia relatif muda, Erick menilai bahwa hal itu merupakan tuntutan alami industri. “Media dengan segala perubahan zaman akan menjadi bisnis anak muda atau paling tidak yang berjiwa muda. Sebab, bisnis ini sangat berbasis inovasi dan kompleks.

Apa Makna “Beda” dari TV One?
Presiden SBY meresmikan beroperasinya sebuah stasiun televisi (lama tapi) baru, yaitu TV One (eks Lativi). Apa yang membuat Pak SBY berminat meresmikan TV One? Apakah karena permintaan salah satu Menko-nya, Abu Rizal Barkie? yang konon kabarnya salah satu pemilik saham TV One melalui Anin Bakrie?. Begitu juga wawancara langsung dengan Wapres JK pada malam harinya. Alhasil, tidak anehlah jika para petinggi negri ini muncul diperesmian TV One.
Tertarik dengan jargonnya, saya coba mengikuti susunan acaranya yang menurut Karni Ilyas, salah satu direkturnya, “berbeda”. Begitu juga menurut Dirutnya Eric Thohir. Kata “Memang Beda”, tentu saja ditujukan untuk menarik minat pemirsa seperti saya.
Tertarik dengan kata ‘beda’, karena berkonotasi akan munculnya sebuah karya kreatif atau inovatif, yang belum pernah dilakukan atau dilihat oleh orang lain. Untuk dunia program televisi, saya sudah banyak menemukan pola program TV yang masing-masing berbeda, seperti MTV untuk Musik, CNN untuk Berita, ESPN untuk Olah Raga, E! Channel untuk Info Selebritis, Travel & Living untuk Info Pariwisata, Asian Food Channel untuk acara masak memasak, Fashion TV untuk Info Mode, Model dan designer produk, Animal Planet untuk Info dunia binatang, Discovery Channel untuk feature fiksi dan Disney Playground untuk acara dunia anak. Stasiun televisi yang dapat dijumpai di tv kabel tersebut betul-betul beda secara nyata dalam susunan dan pola programnya. Apakah seperti itu yang dimaksud TV One?
Setelah diperhatikan sejak peluncurannya, di TV One tidak ada yang beda. antara TV One dengan TV yang lainnya (RCTI, SCTV, Indosiar, TransTV, MetroTV, dll). Selama TV One masih menyiarkan acara-acara seperti Berita, Olah Raga, Hiburan, Belanja, Believe It or Not atau beberapa acara lainnya seperti yang dipromosikan di layar kaca-nya, Itu akan tetap sama dengan TV lain. Yang beda cuma ‘chasing’-nya.
Untuk bisa disebut beda, program TV harus betul-betul beda dalam artinya yang nyata antara TV yang satu dengan yang lainnya, seperti contohnya TV lain yang diatas. Semoga TV One tidak mengaburkan makna “Berbeda” mulai dari awal peluncurannya.
Pergantian nama atau logo sekarang menjadi sebuah tren bagi beberapa unit bisnis.Seperti yang kita lihat dan kita kenal bahwa stasiun televisi antv sudah memulainya ,diikkuti oleh tv7 yang berganti nama tran7,atau diluar stasiun televisi ada bank mandiri yang baru saja mennganti logo mereka dan bahkan mengontrak seorang musisi bernama yovie widianto untuk menjadi salah satu seleb endorser mereka.
Sebuah stasiun televisi yang dipandang sebelah mata oleh sebagian orang pun berganti nama menjadi tv one.Dengan tagline mereka sejuta pilihan satu kepastian( kalau tidak salah) .Tapi akan dibawa kemanakah stasiun ini sebagai media di Indonesia.Kabarnya seorang karni ilyas yang merupakan direktur antv ikut menyumbang lahirnya tv one.Bukan sebuah rahasia lagi saat tv one masih bernama lativi mereka mengiklankan program antv dan begitu pula sebaliknya.secara proses manajemen mungkin ini lah langkah terbaik.Bagaimana dengan yang lainnya ?
Program olahraga seperti sepakbola menurut saya yang diubah.liga inggris di pertengahan tahun 2007 jadi pemberitaan hangat karena tidak ada satu pun stasiun tv di Indonesia yang menayangkany.Lativi atau tv one pun menyediakan layanan tersebut.Tapi ada banyak krtik jadinya tayangan yang disediakan pun haya tim dengan kelas medioker dan bukan tim besar.Acara pun sepertinya dipandu dengan masih kaku oleh pembawa acara.
Beberapa diantaranya kerap salah menyebutkan nama atau bahkan tidak tau apa yang akan dibicarakan.Bukti terakhir adalah pertandingan persahabatan antara persija vs hyundai ,sang pembawa acara malah asik membahas tim nasional dan bukannya pertandingan karena disisinya ada pelatih timnas saat ini.
Acara basket mungkin lebih baik nama-nama pembawa acra seperti tamara geraldine dan iwa K sudah sangat menunjukkan kualitasnya.Isinya pun juga berbobot baik itu untuk pertandingannya atau pun bahkan komentatornya.
Beralih ke program lain seperti acara berita ,mereka mencoba melakukan dengan gaya baru pembaca berita diarahkan untuk membacakan beritanya dengan tidak terlalu kaku .Selain itu ada laporan dari berbagai macam koresponden seperti di makasar ,surabaya dan juga medan.Acara lainnya tentu saja tak lepas dari hiburan bisa saja sinetron,film,atau oun acara gosip.Untuk film jangan sampai tv one memutar film yang sama dalam satu hari atau bahkan bisa beberapa film yang sama dalam satu minggu meskipun berbeda hari.
Bagaimana perannya dengan pendidikan ?film-film dokumenter yang sering diputar mungkin bisa menjadi ilmu pengetahuan yang penting buat kita.Perannya untuk membangun bagsa ini dari segala sisi bagaimana?bagai para peminat televisi tentunya sudah pernah melihat acara kerah putih yaitu acara yang mencoba untuk membongkar kasus korupsi.tapi sampai dimanakah semuanya itu?
Mungkin dalam waktu dekat ini kita tidak bisa tahu seberapa berhasilkah ukuran sukses pergantian nama televisi ini .Semoga tv one mampu memberikan yang terbaik untuk para pecinta televisi di Indonesia.

1 Komentar »

  1. Yang mau saya tanyakan, jenis huruf (font) apakah yang digunakan pada logo tvOne dan globaltv? kirim jawabannya ke alamt email saya yakni ujangrahmat33@yahoo.co.id. Terima kasih

    Komentar oleh Rahmat Hidayat — 11, Juni, 2009 @ 10:21 am | Balas


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Buat website atau blog gratis di WordPress,com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: